DI SUSUN OLEH :
INDAH RAHAYU ANGGRAINI
10/299799/SA/15461
→
Judul :
Ajisaka sebagai dewasisya Di Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala karya Pujangga R.
Ng Ranggawarsita
→
Penulis karya Ilmiyah
: Anung Tedjowirawan
→
Tebal karya Ilmiyah :
37
Serat Ajidarma-ajinirmala adalah dua buku yang
dijadikan satu, yang disusun berdasarkan kitab Musarar dari Rum. Serat
Ajidarma-ajinirmala ini adalah karya Pujangga R.N.G. Ranggawarsita.
Dalam Serat Ajidarma, Jaka Sangkala mempunyai guru
dari para Dewa di Gunung Kendheng, diantaranya : Empu Ramadi, Sang Hyang Guru,
Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wisnu, Sang
Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya.
Sdedangkan dalam Serat Ajinirmala, menceritakan
perjalanan Jaka Sangkala di Gunung Alaulu, yang mempunyai guru dari para Dewa
juga, diantaranya : Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ening, Sang Hyang Tunggal,
Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Pramesthi Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang
Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala,
dan Sang Hyang Kamajaya.
Kedua Serat ini membicarakan tentang Pengetahuan Suci,
Petunjuk Dharma, Petunjuk untuk membentengi diri dari perbuatan jahat.
Ajisaka adalah tokoh Pahlawan Kebudayaan dan juga
Tokoh spiritual. Terbukti banyaknya kitab yang membahas tentang Ajisaka.
Menurut Legenda Ajisaka Resistensi Gaya Tengger.
Masyarakat Suku Tengger merupakan salah satu masyarakat yang hidup di
Pegunungan Bromo di kawasan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang-Malang.
Asal cerita Masyarakat Tengger terbentuk dari pelarian
prajurit dan penduduk Majapahit ketika suatu Ketika Kerajaan tersebutdiserang
oleh Kerajaan Demak. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melarikan diri dan
sampai di Pegunungan Tengger.
Dengan menyandang status suku pelarian, mereka membuat
suatu kelompok dengan berbagai basic pranata sosial, mereka memiliki berbagai
karakteristi sosial, budaya, politik, dan agama. Dengan perbedaan-perbedaan
tersebut mereka menjadi masyarakat yang saling melengkapi tidak dapat
dipisahkan antara satu sama lain. Keterkaitan politik, sosial, dan agama yang
harus dipertahankan.
Orang Tengger memiliki petunjuk yang mengarah kepada
keharmonisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam
sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yaitu :
· Setya Budaya ( taat dan
hormat kepada adat )
· Setya Wacana ( kata harus
sesuai perbuatan )
· Setya Semaya ( Selalu
menepati janji )
· Setya Laksana (
bertanggungjawab terhadap Tugas )
· Setya Mitra ( Selalu
membangun Kesetiakawanan ).
Untuk
mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger harus menjauhi Malima :
Ø Maling ( mencuri )
Ø Main ( main Judi )
Ø Madat ( mengisap Candu )
Ø Minum ( mabuk minuman Keras )
Ø Madon ( main Perempuan ).
Dan harus menjaga Walima :
v Waras ( Sehat jasmani dan
Rohani )
v Wareg ( Cukup makan )
v Wastra ( Cukup Sandang )
v Wasis ( Cukup Ilmu
Pengetahuan )
v Wisma ( memiliki tempat
tinggal yang tepat ).
Dalam Artikel Dr. Bisry Effendy, Direktur Lembaga
Kebudayaan Desantara dan Peneliti dari LIPI ini menyangkut bagaimana masyarakat
Tengger melakukan Resistansi dengan menciptakan legenda Ajisaka.
Dalam cerita hidup sepasang suami istri Pegunungan
Tengger, Kyai dan Nyai Kures. Mereka hidup miskin dan mata pencahariannya adalah
mencari kayu bakar. Anaknya yang bernama Dursila mempunyai niat buruk.
Pada suatu hari Kyai Kures bertemu dengan ular yang
namanya Antaboga. Kyai Kures dililit ular tersebut, dan kemudian membuat
perjanjian Kyai Kures harus memberi dua kaleng susu setiap hari pada ular
Antaboga tersebut. Arena sering merasa sulit dengan perjanjian tersebut,
Antaboga merasa iba dan memberikan emas yang melimpah yang keluar dari muntahan
mulutnya.
Kyai Kures menjadi kaya raya dan anaknya yang bernama
Dursila itu merasa iri yang kemudian mencari si Antaboga untuk dipaksa
mengeluarkan emas dari muntahan mulutnya. Si Antaboga marah dan menelan
hidup-hidup Si Dursila.
Kyai Kures bersedih, karena kehilangan anak
satu-satunya. Dan di kemudian hari Kyai Kures memiliki seorang Putra yang
berparas Ganteng, yang diberi nama Ajisaka. Atas usulan dari Si Ular Antaboga,
Ajisaka berguru kepada Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Setelah selesai menuntut Ilmu dari Makkah, Ajisaka
mendapat dua oleh-oleh dari Nabi Muhammad SAW berupa Lontar dan Alat tulis.
Ketika sampai di Tengger, Ajisaka baru menyadari jika Lontarnya ketinggalan di
Makkah. Maka dari itu Ajisaka menurunkan perintah pada Ana untuk pergi ke
Makkah untuk mengambil Lontar.
Di saat yang bersamaan pula Nabi Muhammad SAW mengutus
Alif untuk mengantar Lontar ke Tengger. Ternyata keduanya bertemu dan terjadi
perebutan dan sampai perang yang berakhir keduanya tewas.
Ketika ajisaka mendengar kabar tersebut, ia lalu
bersajak “Ana Caraka Data Sawala Padha Jayanya Maga Bathanga” yang sampai sekarang masih berfungsi menjadi
aksara jawa.
Dinamika masyarakat Tengger berkaitan dengan Legenda
Ajisaa yang bisa menunjukan perubahan sosial dari pranata sosial. Misalnya
berbagai kearifan lokal masyarakat Tengger yang searang sudah mulai hilang,
karena tertelan zaman.
Beberapa perubahan Pranata sosial masyarakat Tengger,
yaitu :
ü Dari segi keagamaan masih
tidak jelas posisi agamayang dianut masyarakat Tengger.
ü Dari segi sosial, adat
peninggalan dari leluhur mulai ditinggalkan oleh generasi penerus, kebanyakan
mereka yang tua yang masih meneruskan adat dari leluhurnya, sementara kaum muda
bersifat Ahistoris.
ü Dari segi struktur sosial,masyarakat
Tengger terganggu dengan peraturan formal pemeritah, contohnya UU.
ü Dari segi ekonomi, terdapat
peningkatan yang cukup signifikan bukan hanya karena di daerah Tengger terdapat
kawasan wisata Gunung Bromo, melainkan karena produktivitas yang meningkat
dalam sistem pertanian.
ü Dari segi budaya dan adat
terdapat pergeseran menuju hal-hal yang lebih komersial ( generasi muda ) di
tengah upaya sebagian kecil generasi tua untuk terus melestarikan warisan
leluhurnya.
Dalam konteks lain, dalam buku berbahasa Belanda
berjudul Javaan Schrift tulisan Van der Mollen. Syair Aksara Jawa masih sulit
dicari asal usulnya .
Ajisaka sebagai tokoh Mitologi, Ajisaka adalah Raja
Kerajaan Surati putra dari Prabu Isawaka putra dari Bathara Ramayadhi, cucu
Sang Hyang Rama Prawa, cicit Sang Hyang Hening. Seperti tertera dalam Serat
Paramayoga maupun Serat Purwapada karya R. N. G. Ranggawarsita.
Pendapat lain dari Bhikhu Dhammasubho Mahathera bahwa
suu Sakya semula di kenal sebagai bangsa Arya, Indo-Jerman. Suku Sakya ini
telah mengenal sastra, budaya, masyarakat Suku Sakya mengikuti kelompok
berlayar ke Nusantara mendarat di pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Pendaratan
tersebut mereka kenang sebagai Tahun Caka. Selain itu juga membuat kamus dan
menyusun bahasa dari bahasa Pali turun Ke bahasa Dewa Nagari, kemudian diubah
dan dikembangkan kedalam bahasa Jawa menjadi huruf Pallawa ( Pali-Jawa ). Selanjutnya
turun menjadi bahasa Kawi ( Jawa kuno ), kemudian menjadi dua puluh huruf pasif
(ho no co ro ko // do to so wo lo // po dho jo yo nyo // mo go bo tho ngo), dan
delapan huruf hidup, yaitu : pepet, pelik, taling, taling-tarung, layar, cakra,
suku, dan pangku.
Adapun cerita Ajisaka yang di kenal masyarakat luas
adalah cerita yang meriwayatkan seorang pahlawan muda di negri asing di bawah
pemerintahan seorang raja yang suka makan daging manusia. Kemudian Ajisaka
menawarkan diri untuk menjadi Raja. Sang raja hanya memberi kekuasaan kepada
Ajisaka sebesar destar. Tapi kemudian destar itu membesar dan menutupi semua
daerah kekuasaan Sang raja dan akhirnya Sang Raja mengakui kekalahannya.
Sang Raja memberi sebuah senjata kepada ajisaka yang
dititipkan lewat pengawalnya yang harus di kasihkan kepada Ajisaka sendiri,
sedangkan Ajisaka mengirimkan pengawal untuk mengambil senjata itu. Terjadilah
perang hebat yang mengakibatkan tewasnya edua pengawal Raja itu.
Ajisaka mengucapkan :
Ha na ca ra ka da ta sa wa la, pa dha ja ya nya ma ga
ba tha nga
Yang berarti :
Ada abdi-abdi yang terlibat dalam perkelahian, dan
yang telah menemui ajalnya, oleh karena mereka sama kuatnya.
Masyarakat Jawa berinisiatif untuk menyusun huruf
konsonannya berupa :
H n c r k d t s w l p dh j y ny m g b th ng.
Dalam masalah ini Brandes meyakinkan bahwa cerita
tersebut dalam bentuk legenda memberitahukan sebuah fakta tentang masukknya
peradaban Hindu di tanah Jawa. Saka adalah perubahan dalam bahasa Jawa dari
kata sanskerta syaka, yang di India artinya “ Bangsa scyth “, tetapi dalam
bahasa Jawa bentuk kata majemuk syakakala, yang diambil dari tarikh Ajisaka
yaitu “Raja Saka”.
Dalam Legenda Bawean, Tokoh pembantu ajisaka yang
dihormati adalah Dora dan sembada. Kedua tokoh inilah yang berperang dalam
peperangan yang membuat mereka wafat.
Serat Ajidarma-Ajinirmala sebagai Karya sufisme. Yakni
dipakai sebagai bahan utama tulisan ini adalah naskah Serat Ajidarma-Ajinirmala
koleksi perpustakaan Radyapustaka Surakarta. Serat Ajidarma-Ajinirmala adalah
salah satu bentuk dari Prosa.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala ini, ragam bahasa Jawa
Krama yang di pakai lebih ke arah Bahasa Jawa Krama Inggil. Serat
Ajidarma-Ajinirmala di pakai juga dalam pengajaran ilmu pengetahuan.
Naratif Jaka Sangkala dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala
dan beberapa perbandingan dengan sumber cerita lain.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala diceritakan bahwa Jaka
Sangkala atau sebutan bagi Ajisaka, pertama kalinya menginjakkan di tanah Jawa
adalah Di Gunung Kendheng.
Dalam Serat Djangka Djajabaja terjemahan tim Museum
RadyaPustaka Surakarta yang diketuai R. M. T. Setyoso tjokrodipuro di kemukakan
bahwa pada suatu hari Prabu Jayabaya Raja Kediri kedatangan pendeta Sakti dari
kerajaan Rum bernama Molana Ngali samsuzen. Baginda dan pendeta sakti itu
bertukar pendapat dan pikiran tentang Ilmu Pengetahuan.
Ajisaka sebagai Dewasisya dalam Serat
Ajidarma-Ajinirmala, yaitu :
o
Pelajaran Ghaib dari beberapa Dewa
o Penamaan dalam waktu
o
Penamaan hari, bulan dan tahun.
Kini dipastikan dalam Karya Ilmiyah Ajisaka adalah
seorang pahlawan kebudayaan (culture Hero) bagi masyarakat Jawa. Naratif tokoh
spiritual. Putra sang dewa, sang raja dan sang ulama.
Sumber dari Effendy, Bisry.
2003. Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger. Majalah ngaji Budaya, Desantara
dan Pospek Averroes.
0 komentar:
Posting Komentar