Senin, 26 September 2011

AJISAKA SEBAGAI DEWASISYA DI DALAM SERAT AJIDARMA-AJINIRMALA KARYA PUJANGGA R.N.G. RANGGAWARSITA

Diposting oleh Iraa di 05.16



DI SUSUN OLEH :
INDAH RAHAYU ANGGRAINI
10/299799/SA/15461

   Judul                                      : Ajisaka sebagai dewasisya Di Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala karya Pujangga R. Ng Ranggawarsita
   Penulis karya Ilmiyah         : Anung Tedjowirawan
   Tebal karya Ilmiyah : 37

Serat Ajidarma-ajinirmala adalah dua buku yang dijadikan satu, yang disusun berdasarkan kitab Musarar dari Rum. Serat Ajidarma-ajinirmala ini adalah karya Pujangga R.N.G. Ranggawarsita.
Dalam Serat Ajidarma, Jaka Sangkala mempunyai guru dari para Dewa di Gunung Kendheng, diantaranya : Empu Ramadi, Sang Hyang Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya.
Sdedangkan dalam Serat Ajinirmala, menceritakan perjalanan Jaka Sangkala di Gunung Alaulu, yang mempunyai guru dari para Dewa juga, diantaranya : Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ening, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Pramesthi Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya.
Kedua Serat ini membicarakan tentang Pengetahuan Suci, Petunjuk Dharma, Petunjuk untuk membentengi diri dari perbuatan jahat.

Ajisaka adalah tokoh Pahlawan Kebudayaan dan juga Tokoh spiritual. Terbukti banyaknya kitab yang membahas tentang Ajisaka.
Menurut Legenda Ajisaka Resistensi Gaya Tengger. Masyarakat Suku Tengger merupakan salah satu masyarakat yang hidup di Pegunungan Bromo di kawasan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang-Malang.
Asal cerita Masyarakat Tengger terbentuk dari pelarian prajurit dan penduduk Majapahit ketika suatu Ketika Kerajaan tersebutdiserang oleh Kerajaan Demak. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melarikan diri dan sampai di Pegunungan Tengger.
Dengan menyandang status suku pelarian, mereka membuat suatu kelompok dengan berbagai basic pranata sosial, mereka memiliki berbagai karakteristi sosial, budaya, politik, dan agama. Dengan perbedaan-perbedaan tersebut mereka menjadi masyarakat yang saling melengkapi tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Keterkaitan politik, sosial, dan agama yang harus dipertahankan.
Orang Tengger memiliki petunjuk yang mengarah kepada keharmonisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yaitu :
·       Setya Budaya ( taat dan hormat kepada adat )
·       Setya Wacana ( kata harus sesuai perbuatan )
·       Setya Semaya ( Selalu menepati janji )
·       Setya Laksana ( bertanggungjawab terhadap Tugas )
·       Setya Mitra ( Selalu membangun Kesetiakawanan ).
Untuk mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger harus menjauhi Malima :
Ø Maling ( mencuri )
Ø Main ( main Judi )
Ø Madat ( mengisap Candu )
Ø Minum ( mabuk minuman Keras )
Ø Madon ( main Perempuan ).

Dan harus menjaga Walima :
v Waras ( Sehat jasmani dan Rohani )
v Wareg ( Cukup makan )
v Wastra ( Cukup Sandang )
v Wasis ( Cukup Ilmu Pengetahuan )
v Wisma ( memiliki tempat tinggal yang tepat ).
Dalam Artikel Dr. Bisry Effendy, Direktur Lembaga Kebudayaan Desantara dan Peneliti dari LIPI ini menyangkut bagaimana masyarakat Tengger melakukan Resistansi dengan menciptakan legenda Ajisaka.
Dalam cerita hidup sepasang suami istri Pegunungan Tengger, Kyai dan Nyai Kures. Mereka hidup miskin dan mata pencahariannya adalah mencari kayu bakar. Anaknya yang bernama Dursila mempunyai niat buruk.
Pada suatu hari Kyai Kures bertemu dengan ular yang namanya Antaboga. Kyai Kures dililit ular tersebut, dan kemudian membuat perjanjian Kyai Kures harus memberi dua kaleng susu setiap hari pada ular Antaboga tersebut. Arena sering merasa sulit dengan perjanjian tersebut, Antaboga merasa iba dan memberikan emas yang melimpah yang keluar dari muntahan mulutnya.
Kyai Kures menjadi kaya raya dan anaknya yang bernama Dursila itu merasa iri yang kemudian mencari si Antaboga untuk dipaksa mengeluarkan emas dari muntahan mulutnya. Si Antaboga marah dan menelan hidup-hidup Si Dursila.
Kyai Kures bersedih, karena kehilangan anak satu-satunya. Dan di kemudian hari Kyai Kures memiliki seorang Putra yang berparas Ganteng, yang diberi nama Ajisaka. Atas usulan dari Si Ular Antaboga, Ajisaka berguru kepada Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Setelah selesai menuntut Ilmu dari Makkah, Ajisaka mendapat dua oleh-oleh dari Nabi Muhammad SAW berupa Lontar dan Alat tulis. Ketika sampai di Tengger, Ajisaka baru menyadari jika Lontarnya ketinggalan di Makkah. Maka dari itu Ajisaka menurunkan perintah pada Ana untuk pergi ke Makkah untuk mengambil Lontar.
Di saat yang bersamaan pula Nabi Muhammad SAW mengutus Alif untuk mengantar Lontar ke Tengger. Ternyata keduanya bertemu dan terjadi perebutan dan sampai perang yang berakhir keduanya tewas.
Ketika ajisaka mendengar kabar tersebut, ia lalu bersajak “Ana Caraka Data Sawala Padha Jayanya Maga Bathanga”  yang sampai sekarang masih berfungsi menjadi aksara jawa.
Dinamika masyarakat Tengger berkaitan dengan Legenda Ajisaa yang bisa menunjukan perubahan sosial dari pranata sosial. Misalnya berbagai kearifan lokal masyarakat Tengger yang searang sudah mulai hilang, karena tertelan zaman.
Beberapa perubahan Pranata sosial masyarakat Tengger, yaitu :
ü Dari segi keagamaan masih tidak jelas posisi agamayang dianut masyarakat Tengger.
ü Dari segi sosial, adat peninggalan dari leluhur mulai ditinggalkan oleh generasi penerus, kebanyakan mereka yang tua yang masih meneruskan adat dari leluhurnya, sementara kaum muda bersifat Ahistoris.
ü Dari segi struktur sosial,masyarakat Tengger terganggu dengan peraturan formal pemeritah, contohnya UU.
ü Dari segi ekonomi, terdapat peningkatan yang cukup signifikan bukan hanya karena di daerah Tengger terdapat kawasan wisata Gunung Bromo, melainkan karena produktivitas yang meningkat dalam sistem pertanian.
ü Dari segi budaya dan adat terdapat pergeseran menuju hal-hal yang lebih komersial ( generasi muda ) di tengah upaya sebagian kecil generasi tua untuk terus melestarikan warisan leluhurnya.
Dalam konteks lain, dalam buku berbahasa Belanda berjudul Javaan Schrift tulisan Van der Mollen. Syair Aksara Jawa masih sulit dicari asal usulnya .


Ajisaka sebagai tokoh Mitologi, Ajisaka adalah Raja Kerajaan Surati putra dari Prabu Isawaka putra dari Bathara Ramayadhi, cucu Sang Hyang Rama Prawa, cicit Sang Hyang Hening. Seperti tertera dalam Serat Paramayoga maupun Serat Purwapada karya R. N. G. Ranggawarsita.
Pendapat lain dari Bhikhu Dhammasubho Mahathera bahwa suu Sakya semula di kenal sebagai bangsa Arya, Indo-Jerman. Suku Sakya ini telah mengenal sastra, budaya, masyarakat Suku Sakya mengikuti kelompok berlayar ke Nusantara mendarat di pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Pendaratan tersebut mereka kenang sebagai Tahun Caka. Selain itu juga membuat kamus dan menyusun bahasa dari bahasa Pali turun Ke bahasa Dewa Nagari, kemudian diubah dan dikembangkan kedalam bahasa Jawa menjadi huruf Pallawa ( Pali-Jawa ). Selanjutnya turun menjadi bahasa Kawi ( Jawa kuno ), kemudian menjadi dua puluh huruf pasif (ho no co ro ko // do to so wo lo // po dho jo yo nyo // mo go bo tho ngo), dan delapan huruf hidup, yaitu : pepet, pelik, taling, taling-tarung, layar, cakra, suku, dan pangku.
Adapun cerita Ajisaka yang di kenal masyarakat luas adalah cerita yang meriwayatkan seorang pahlawan muda di negri asing di bawah pemerintahan seorang raja yang suka makan daging manusia. Kemudian Ajisaka menawarkan diri untuk menjadi Raja. Sang raja hanya memberi kekuasaan kepada Ajisaka sebesar destar. Tapi kemudian destar itu membesar dan menutupi semua daerah kekuasaan Sang raja dan akhirnya Sang Raja mengakui kekalahannya.
Sang Raja memberi sebuah senjata kepada ajisaka yang dititipkan lewat pengawalnya yang harus di kasihkan kepada Ajisaka sendiri, sedangkan Ajisaka mengirimkan pengawal untuk mengambil senjata itu. Terjadilah perang hebat yang mengakibatkan tewasnya edua pengawal Raja itu.
Ajisaka mengucapkan :
Ha na ca ra ka da ta sa wa la, pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga
Yang berarti :
Ada abdi-abdi yang terlibat dalam perkelahian, dan yang telah menemui ajalnya, oleh karena mereka sama kuatnya.


Masyarakat Jawa berinisiatif untuk menyusun huruf konsonannya berupa :
H n c r k d t s w l p dh j y ny m g b th ng.
Dalam masalah ini Brandes meyakinkan bahwa cerita tersebut dalam bentuk legenda memberitahukan sebuah fakta tentang masukknya peradaban Hindu di tanah Jawa. Saka adalah perubahan dalam bahasa Jawa dari kata sanskerta syaka, yang di India artinya “ Bangsa scyth “, tetapi dalam bahasa Jawa bentuk kata majemuk syakakala, yang diambil dari tarikh Ajisaka yaitu “Raja Saka”.
Dalam Legenda Bawean, Tokoh pembantu ajisaka yang dihormati adalah Dora dan sembada. Kedua tokoh inilah yang berperang dalam peperangan yang membuat mereka wafat.
Serat Ajidarma-Ajinirmala sebagai Karya sufisme. Yakni dipakai sebagai bahan utama tulisan ini adalah naskah Serat Ajidarma-Ajinirmala koleksi perpustakaan Radyapustaka Surakarta. Serat Ajidarma-Ajinirmala adalah salah satu bentuk dari Prosa.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala ini, ragam bahasa Jawa Krama yang di pakai lebih ke arah Bahasa Jawa Krama Inggil. Serat Ajidarma-Ajinirmala di pakai juga dalam pengajaran ilmu pengetahuan.
Naratif Jaka Sangkala dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala dan beberapa perbandingan dengan sumber cerita lain.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala diceritakan bahwa Jaka Sangkala atau sebutan bagi Ajisaka, pertama kalinya menginjakkan di tanah Jawa adalah Di Gunung Kendheng.
Dalam Serat Djangka Djajabaja terjemahan tim Museum RadyaPustaka Surakarta yang diketuai R. M. T. Setyoso tjokrodipuro di kemukakan bahwa pada suatu hari Prabu Jayabaya Raja Kediri kedatangan pendeta Sakti dari kerajaan Rum bernama Molana Ngali samsuzen. Baginda dan pendeta sakti itu bertukar pendapat dan pikiran tentang Ilmu Pengetahuan.



Ajisaka sebagai Dewasisya dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala, yaitu :
o   Pelajaran Ghaib dari beberapa Dewa
o   Penamaan dalam waktu
o   Penamaan hari, bulan dan tahun.
Kini dipastikan dalam Karya Ilmiyah Ajisaka adalah seorang pahlawan kebudayaan (culture Hero) bagi masyarakat Jawa. Naratif tokoh spiritual. Putra sang dewa, sang raja dan sang ulama.





Sumber dari Effendy, Bisry. 2003. Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger. Majalah ngaji Budaya, Desantara dan Pospek Averroes.

0 komentar:

Posting Komentar

 

IRA_Queen Wanna be Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review