Untuk yang satu ini akan menjadi perbincangan yang sangat oke,, tak hanya di dunia hiburan gosip ini berlaku,, di dunia yang sedang dijalani semua orangpun sering ada gosip,, sebagian dari manusia suka berbincang-bincang terlewat batas sehingga yang ada malah ngegosip,, diantara gosip-gosip itu ada yang memang memiliki alasan untuk pendapat yang diungkapkan,, ada juga yang untuk mengisi kekosongan dan asal ngomong,, nach terkadang dari gosip itu terjadi reaksi dari manusia yang merasa tidak aman dengan gosip tentang dirinya,, dengan begitu ada yang merespon dengan biasa-biasa saja,, ada pula yang salah tingkah dan malah membuat seolah semua itu benar,,
Tapi sekedar curhat,, Gosip itu akan menambah rasa yang tidak pasti,, gosip itu sendiri memperparah rasa sakit,, dan gara-gara gosip akan menghancurkan hubungan yang awalnya baik,, iiih kadang sy seneng,, tapi neg buat sakit hati yang menjadi-jadimah malez,,
Social Media
Random Blog
~ Beauty Product
~ Share Activity
~ Go follow my IG IRAIERA
Kamis, 29 September 2011
Selasa, 27 September 2011
Rinduq kesangkut di Gengsi
Ketika Rindu ini semakin menggebu di dada,,
Meski dibeberapa kesempatan qt bertemu bertatap muka,, bahkan ngobrol,,, tapi dengan obrolan yang profesional,, senyum manis itu tak aq dapatkan waktu itu,,
sempat qt seperti dua insan yang tak pernah kenal,, tanpa sapaan,, senyuman,, dan tatapan.
Kini rindu ingin bertemu dan bertemu dengan qm yang mengenal aq,, qm yang pernah memanjakan aq,, qm yang pernah mengerti aq,, dan qm yang pernah mengajari aq kedewasaan,,
tapi rinduq sedang nyangkut di Gengsi,, tak mau aq menghubungimu duluan,, tak mau aq menyapamu duluan,, tak mau aq tersenyum duluan,, karena aq sayang qm,, sayang karena qm pernah menjadi teman yang baik bagiq,, terima kasih,, aq ingin qt seperti dulu lagi,, teman,,
Meski dibeberapa kesempatan qt bertemu bertatap muka,, bahkan ngobrol,,, tapi dengan obrolan yang profesional,, senyum manis itu tak aq dapatkan waktu itu,,
sempat qt seperti dua insan yang tak pernah kenal,, tanpa sapaan,, senyuman,, dan tatapan.
Kini rindu ingin bertemu dan bertemu dengan qm yang mengenal aq,, qm yang pernah memanjakan aq,, qm yang pernah mengerti aq,, dan qm yang pernah mengajari aq kedewasaan,,
tapi rinduq sedang nyangkut di Gengsi,, tak mau aq menghubungimu duluan,, tak mau aq menyapamu duluan,, tak mau aq tersenyum duluan,, karena aq sayang qm,, sayang karena qm pernah menjadi teman yang baik bagiq,, terima kasih,, aq ingin qt seperti dulu lagi,, teman,,
Senin, 26 September 2011
Cerita Pandhawa dan Sang Arjuna
Indah
Rahayu Anggraini
Arjuna didampingi
Semar dan Gareng (karya Herjaka HS ) Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di
atas Singhasana dihadapap oleh Lesmana Mandrakumara, Pendeta Durna, Patih
Sakuni, Adipati Karna, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Durmagati, Citraksa
dan Citraksi. Raja mendengar kabar tentang kehebatan Pandhawa, lalu ingin
berkunjung ke Ngamarta. Raja minta agar Patih Sakuni mempersiapkan
kepergiannya.
Prabu Duryodana
masuk ke istana memberitahu kepada permaisuri tentang warga Pandhawa dan
kehebatan beritanya. Raja dan permaisuri kemudian santap bersama.
Patih Sakuni dan
Adipati Karna mengajak para Korawa untuk segera bersiap-siap pergi ke Ngamarta.
Setelah siap mereka berangkat.
Prabu Kresna raja
Dwarawati berbicara dengan Patih Udawa, Samba, Satyaki dan Satyaka. Mereka
membicarakan berita Arjuna yang ingin memperluas daerah kekuasaannya. Kresna
ingin berkunjung ke Ngamarta.
Prabu Jathayaksa
raja Guwa Miring dihadap oleh Jathayaksi dan Patih Jathaketu. Raja ingin
melamar Dyah Sarimaya putri Prabu Sukendra raja Srawantipura. Ditya Kala Meru
diutus menyampaikan surat lamaran. Ditya Kala Meru segera berangkat.
Perjalanan Ditya
Kala Meru dan perajurit bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah
perselisihan, tetapi perajurit Kala Meru menyimpang jalan.
Angkawijaya
menghadap Bagawan Abiyasa mohon doa restu atas cita-cita Arjuna, ayahnya.
Bagawan Abyasa merestuinya. Angkawijaya mohon diri, lalu meninggalkan
pertapaan. Para panakawan menyertainya.
Prabu Sukendra raja
Srawantipura bersedih hati, karena Dyah Sarimaya hamil sebelum bersuami. Sang
raja marah setelah diberi tahu oleh Dyah Sarimaya, bahwa ia hamil karena
Arjuna. Patih dan Mayakusuma diperintahkan untuk membakar Dyah Sarimaya. Di
tengah api bernyala Arjuna masuk untuk melindungi Dyah Sarimaya. Dyah Sarimaya
tidak mati terbakar, Arjuna meninggalkan api pembakaran.
Perjalanan
Angkawijaya dihadang oleh raksasa Guwa Miring. Terjadilah perkelahian.
Perajurit raksasa musnah tidak tersisa.
Prabu Puntadewa raja
Ngamarta dihadap oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Prabu Kresna datang menanyakan
kabar tentang Arjuna. Patih Sakuni, Adipati Karna dan para Korawa datang.
Mereka mendengar cerita Prabu Puntadewa tentang Arjuna. Kresna ingin ke Madukara.
Adipati Karna beserta para Korawa heran. Kresna dan Bima pergi ke Madukara.
Arjuna berpesan
kepada Gathotkaca dan Angkawijaya, bila orang akan masuk kerajaan Madukara
harus melepas keris. Bima datang hendak menemui Arjuna. Gathotkaca menyongsong
dengan meminta keris. Bima tidak memberikannya, lalu memaksa masuk ke istana
Arjuna. Setelah melangkah masuk ke pintu, Bima berubah jadi perempuan. Bima
malu, lalu mundur.
Kresna akan masuk,
ditahan oleh Angkawijaya. Keris diminta, tetapi Kresna tidak memberikannya.
Kresna memaksa untuk masuk, seketika berubah menjadi perempuan. Kresna malu,
pergi lari tanpa berpamitan, menuju ke Suralaya.
Hyang Guru sedang
berbicara dengan Hyang Narada. Tiba-tiba Kresna datang. Kresna mengadu, bahwa
Arjuna mengumumkan diri sebagai “Lelananging Jagad.” Hyang Guru marah, minta
agar Hyang Narada turun ke marcapada.
Hyang Narada tiba di
Madukara, diterima oleh Gathotkaca dan dan Angkawijaya. Mereka minta keris
Hyang Narada, tetapi tidak diberikannya. Hyang Narada memaksa masuk ke istana
Arjuna. Setelah melangkah akan masuk, seketika Hyang Narada berubah menjadi
jenis wanita. Hyang Narada berteriak-teriak, melarikan diri, kembali ke
Suralaya. Hyang Narada menghadap Hyang Guru, untuk melaporkan kejadiannya
tentang Arjuna. Hyang Guru cepat-cepat turun ke marcapada.
Arjuna sedang duduk
bersama Gathotkaca dan Angkawijaya. Hyang Guru dan Hyang Narada datang. Mereka
menghormat Arjuna yang dilindungi oleh Sang Hyang Jati Wasesa, lalu kembali ke
Suralaya.
Kresna dan Bima
datang menghormat, Sang Hyang Wisesa memberi tahu kepada Kresna dan Bima, bahwa
Arjuna adalah “Lelananging Jagad.” Sesudah memberi tahu kepada Kresna dan Bima,
Sang Hyang Wisesa tidak menampakkan diri. Para Pandhawa senang hatinya.
Adipati Karna iri
hati, lalu membakar tempat persidangan di Madukara. Gathotkaca dan Angkawijaya
menahan kemarahan Adipati Karna dan para Korawa. Mereka dihalau kembali ke
Ngastina.
Para Pandhawa
berkumpul di Ngamarta, lalu mengadakan pesta kebahagiaan bersama Prabu Kresna.
AJISAKA SEBAGAI DEWASISYA DI DALAM SERAT AJIDARMA-AJINIRMALA KARYA PUJANGGA R.N.G. RANGGAWARSITA
DI SUSUN OLEH :
INDAH RAHAYU ANGGRAINI
10/299799/SA/15461
→
Judul :
Ajisaka sebagai dewasisya Di Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala karya Pujangga R.
Ng Ranggawarsita
→
Penulis karya Ilmiyah
: Anung Tedjowirawan
→
Tebal karya Ilmiyah :
37
Serat Ajidarma-ajinirmala adalah dua buku yang
dijadikan satu, yang disusun berdasarkan kitab Musarar dari Rum. Serat
Ajidarma-ajinirmala ini adalah karya Pujangga R.N.G. Ranggawarsita.
Dalam Serat Ajidarma, Jaka Sangkala mempunyai guru
dari para Dewa di Gunung Kendheng, diantaranya : Empu Ramadi, Sang Hyang Guru,
Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wisnu, Sang
Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya.
Sdedangkan dalam Serat Ajinirmala, menceritakan
perjalanan Jaka Sangkala di Gunung Alaulu, yang mempunyai guru dari para Dewa
juga, diantaranya : Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ening, Sang Hyang Tunggal,
Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Pramesthi Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang
Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala,
dan Sang Hyang Kamajaya.
Kedua Serat ini membicarakan tentang Pengetahuan Suci,
Petunjuk Dharma, Petunjuk untuk membentengi diri dari perbuatan jahat.
Ajisaka adalah tokoh Pahlawan Kebudayaan dan juga
Tokoh spiritual. Terbukti banyaknya kitab yang membahas tentang Ajisaka.
Menurut Legenda Ajisaka Resistensi Gaya Tengger.
Masyarakat Suku Tengger merupakan salah satu masyarakat yang hidup di
Pegunungan Bromo di kawasan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang-Malang.
Asal cerita Masyarakat Tengger terbentuk dari pelarian
prajurit dan penduduk Majapahit ketika suatu Ketika Kerajaan tersebutdiserang
oleh Kerajaan Demak. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melarikan diri dan
sampai di Pegunungan Tengger.
Dengan menyandang status suku pelarian, mereka membuat
suatu kelompok dengan berbagai basic pranata sosial, mereka memiliki berbagai
karakteristi sosial, budaya, politik, dan agama. Dengan perbedaan-perbedaan
tersebut mereka menjadi masyarakat yang saling melengkapi tidak dapat
dipisahkan antara satu sama lain. Keterkaitan politik, sosial, dan agama yang
harus dipertahankan.
Orang Tengger memiliki petunjuk yang mengarah kepada
keharmonisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam
sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yaitu :
· Setya Budaya ( taat dan
hormat kepada adat )
· Setya Wacana ( kata harus
sesuai perbuatan )
· Setya Semaya ( Selalu
menepati janji )
· Setya Laksana (
bertanggungjawab terhadap Tugas )
· Setya Mitra ( Selalu
membangun Kesetiakawanan ).
Untuk
mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger harus menjauhi Malima :
Ø Maling ( mencuri )
Ø Main ( main Judi )
Ø Madat ( mengisap Candu )
Ø Minum ( mabuk minuman Keras )
Ø Madon ( main Perempuan ).
Dan harus menjaga Walima :
v Waras ( Sehat jasmani dan
Rohani )
v Wareg ( Cukup makan )
v Wastra ( Cukup Sandang )
v Wasis ( Cukup Ilmu
Pengetahuan )
v Wisma ( memiliki tempat
tinggal yang tepat ).
Dalam Artikel Dr. Bisry Effendy, Direktur Lembaga
Kebudayaan Desantara dan Peneliti dari LIPI ini menyangkut bagaimana masyarakat
Tengger melakukan Resistansi dengan menciptakan legenda Ajisaka.
Dalam cerita hidup sepasang suami istri Pegunungan
Tengger, Kyai dan Nyai Kures. Mereka hidup miskin dan mata pencahariannya adalah
mencari kayu bakar. Anaknya yang bernama Dursila mempunyai niat buruk.
Pada suatu hari Kyai Kures bertemu dengan ular yang
namanya Antaboga. Kyai Kures dililit ular tersebut, dan kemudian membuat
perjanjian Kyai Kures harus memberi dua kaleng susu setiap hari pada ular
Antaboga tersebut. Arena sering merasa sulit dengan perjanjian tersebut,
Antaboga merasa iba dan memberikan emas yang melimpah yang keluar dari muntahan
mulutnya.
Kyai Kures menjadi kaya raya dan anaknya yang bernama
Dursila itu merasa iri yang kemudian mencari si Antaboga untuk dipaksa
mengeluarkan emas dari muntahan mulutnya. Si Antaboga marah dan menelan
hidup-hidup Si Dursila.
Kyai Kures bersedih, karena kehilangan anak
satu-satunya. Dan di kemudian hari Kyai Kures memiliki seorang Putra yang
berparas Ganteng, yang diberi nama Ajisaka. Atas usulan dari Si Ular Antaboga,
Ajisaka berguru kepada Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Setelah selesai menuntut Ilmu dari Makkah, Ajisaka
mendapat dua oleh-oleh dari Nabi Muhammad SAW berupa Lontar dan Alat tulis.
Ketika sampai di Tengger, Ajisaka baru menyadari jika Lontarnya ketinggalan di
Makkah. Maka dari itu Ajisaka menurunkan perintah pada Ana untuk pergi ke
Makkah untuk mengambil Lontar.
Di saat yang bersamaan pula Nabi Muhammad SAW mengutus
Alif untuk mengantar Lontar ke Tengger. Ternyata keduanya bertemu dan terjadi
perebutan dan sampai perang yang berakhir keduanya tewas.
Ketika ajisaka mendengar kabar tersebut, ia lalu
bersajak “Ana Caraka Data Sawala Padha Jayanya Maga Bathanga” yang sampai sekarang masih berfungsi menjadi
aksara jawa.
Dinamika masyarakat Tengger berkaitan dengan Legenda
Ajisaa yang bisa menunjukan perubahan sosial dari pranata sosial. Misalnya
berbagai kearifan lokal masyarakat Tengger yang searang sudah mulai hilang,
karena tertelan zaman.
Beberapa perubahan Pranata sosial masyarakat Tengger,
yaitu :
ü Dari segi keagamaan masih
tidak jelas posisi agamayang dianut masyarakat Tengger.
ü Dari segi sosial, adat
peninggalan dari leluhur mulai ditinggalkan oleh generasi penerus, kebanyakan
mereka yang tua yang masih meneruskan adat dari leluhurnya, sementara kaum muda
bersifat Ahistoris.
ü Dari segi struktur sosial,masyarakat
Tengger terganggu dengan peraturan formal pemeritah, contohnya UU.
ü Dari segi ekonomi, terdapat
peningkatan yang cukup signifikan bukan hanya karena di daerah Tengger terdapat
kawasan wisata Gunung Bromo, melainkan karena produktivitas yang meningkat
dalam sistem pertanian.
ü Dari segi budaya dan adat
terdapat pergeseran menuju hal-hal yang lebih komersial ( generasi muda ) di
tengah upaya sebagian kecil generasi tua untuk terus melestarikan warisan
leluhurnya.
Dalam konteks lain, dalam buku berbahasa Belanda
berjudul Javaan Schrift tulisan Van der Mollen. Syair Aksara Jawa masih sulit
dicari asal usulnya .
Ajisaka sebagai tokoh Mitologi, Ajisaka adalah Raja
Kerajaan Surati putra dari Prabu Isawaka putra dari Bathara Ramayadhi, cucu
Sang Hyang Rama Prawa, cicit Sang Hyang Hening. Seperti tertera dalam Serat
Paramayoga maupun Serat Purwapada karya R. N. G. Ranggawarsita.
Pendapat lain dari Bhikhu Dhammasubho Mahathera bahwa
suu Sakya semula di kenal sebagai bangsa Arya, Indo-Jerman. Suku Sakya ini
telah mengenal sastra, budaya, masyarakat Suku Sakya mengikuti kelompok
berlayar ke Nusantara mendarat di pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Pendaratan
tersebut mereka kenang sebagai Tahun Caka. Selain itu juga membuat kamus dan
menyusun bahasa dari bahasa Pali turun Ke bahasa Dewa Nagari, kemudian diubah
dan dikembangkan kedalam bahasa Jawa menjadi huruf Pallawa ( Pali-Jawa ). Selanjutnya
turun menjadi bahasa Kawi ( Jawa kuno ), kemudian menjadi dua puluh huruf pasif
(ho no co ro ko // do to so wo lo // po dho jo yo nyo // mo go bo tho ngo), dan
delapan huruf hidup, yaitu : pepet, pelik, taling, taling-tarung, layar, cakra,
suku, dan pangku.
Adapun cerita Ajisaka yang di kenal masyarakat luas
adalah cerita yang meriwayatkan seorang pahlawan muda di negri asing di bawah
pemerintahan seorang raja yang suka makan daging manusia. Kemudian Ajisaka
menawarkan diri untuk menjadi Raja. Sang raja hanya memberi kekuasaan kepada
Ajisaka sebesar destar. Tapi kemudian destar itu membesar dan menutupi semua
daerah kekuasaan Sang raja dan akhirnya Sang Raja mengakui kekalahannya.
Sang Raja memberi sebuah senjata kepada ajisaka yang
dititipkan lewat pengawalnya yang harus di kasihkan kepada Ajisaka sendiri,
sedangkan Ajisaka mengirimkan pengawal untuk mengambil senjata itu. Terjadilah
perang hebat yang mengakibatkan tewasnya edua pengawal Raja itu.
Ajisaka mengucapkan :
Ha na ca ra ka da ta sa wa la, pa dha ja ya nya ma ga
ba tha nga
Yang berarti :
Ada abdi-abdi yang terlibat dalam perkelahian, dan
yang telah menemui ajalnya, oleh karena mereka sama kuatnya.
Masyarakat Jawa berinisiatif untuk menyusun huruf
konsonannya berupa :
H n c r k d t s w l p dh j y ny m g b th ng.
Dalam masalah ini Brandes meyakinkan bahwa cerita
tersebut dalam bentuk legenda memberitahukan sebuah fakta tentang masukknya
peradaban Hindu di tanah Jawa. Saka adalah perubahan dalam bahasa Jawa dari
kata sanskerta syaka, yang di India artinya “ Bangsa scyth “, tetapi dalam
bahasa Jawa bentuk kata majemuk syakakala, yang diambil dari tarikh Ajisaka
yaitu “Raja Saka”.
Dalam Legenda Bawean, Tokoh pembantu ajisaka yang
dihormati adalah Dora dan sembada. Kedua tokoh inilah yang berperang dalam
peperangan yang membuat mereka wafat.
Serat Ajidarma-Ajinirmala sebagai Karya sufisme. Yakni
dipakai sebagai bahan utama tulisan ini adalah naskah Serat Ajidarma-Ajinirmala
koleksi perpustakaan Radyapustaka Surakarta. Serat Ajidarma-Ajinirmala adalah
salah satu bentuk dari Prosa.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala ini, ragam bahasa Jawa
Krama yang di pakai lebih ke arah Bahasa Jawa Krama Inggil. Serat
Ajidarma-Ajinirmala di pakai juga dalam pengajaran ilmu pengetahuan.
Naratif Jaka Sangkala dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala
dan beberapa perbandingan dengan sumber cerita lain.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala diceritakan bahwa Jaka
Sangkala atau sebutan bagi Ajisaka, pertama kalinya menginjakkan di tanah Jawa
adalah Di Gunung Kendheng.
Dalam Serat Djangka Djajabaja terjemahan tim Museum
RadyaPustaka Surakarta yang diketuai R. M. T. Setyoso tjokrodipuro di kemukakan
bahwa pada suatu hari Prabu Jayabaya Raja Kediri kedatangan pendeta Sakti dari
kerajaan Rum bernama Molana Ngali samsuzen. Baginda dan pendeta sakti itu
bertukar pendapat dan pikiran tentang Ilmu Pengetahuan.
Ajisaka sebagai Dewasisya dalam Serat
Ajidarma-Ajinirmala, yaitu :
o
Pelajaran Ghaib dari beberapa Dewa
o Penamaan dalam waktu
o
Penamaan hari, bulan dan tahun.
Kini dipastikan dalam Karya Ilmiyah Ajisaka adalah
seorang pahlawan kebudayaan (culture Hero) bagi masyarakat Jawa. Naratif tokoh
spiritual. Putra sang dewa, sang raja dan sang ulama.
Sumber dari Effendy, Bisry.
2003. Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger. Majalah ngaji Budaya, Desantara
dan Pospek Averroes.
Geguritan : Bandungan
BANDUNGAN
Bandungan . . .
Artinya
adalah kebersamaan, pengarang menjabarkan bagaimana ketika seseorang sedang mengingat
akan kebersamaannya dengan orang yang istimewa di hatinya. Bandungan juga bisa
berarti suatu tempat yang mempertemukan seseorang dengan orang yang dianggap
istimewa tersebut. Tempat yang special bagi seseorang dan orang yang
diistimewakan.
Esemmu, ah esemmu
Pengarang
menggambarkan bagaimana orang yang sedang teringat dengan senyuman seseorang
yang menyihir hati, jiwa, dan raganya. Senyuman yang mampu memasuki relung jiwa
seseorang dan bisa membuat orang itu mati dalam beberapa detik dalam artian
terlalu indah dan manisnya, sehingga membuat terpesona.
Ngujiwat, nyasapi sadawaning laku
Lirikan
mata yang selalu menjadi bayang-bayang setiap kaki melangkah. Pengarang
menciptakan sebuah rasa yang bisa membangkitkan pembaca dalam imajinasinya.
Memberikan kebebasan pada pembaca untuk menginginkan rasa yang seperti apa.
Setiap langkah yang terus diikuti oleh ingatan atas orang yang dianggap istimewa.
Nganti ati lan ati pada kelayu
Rasa
yang seperti inilah yang membuat hati tersiksa, memenjarakanhati pada rasa yang
penuh Tanya. Digantung tak menentu antara iya atau tidak, antara maju atau
mundur, antara diam atau bicara. Semua serba salah.
Ngluru apa kang bisa didulu lan diburu
Mencari
sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya yang berhubungan dengan sakit
hatinya yang mendalam. Mencari sebuah jawaban dari sesuatu yang akan dia
temukan.
Prawan ayu sumadya katuku
Mencoba
membawa pembaca dalam khayalan dan mimpi yang penuh dengan keabstrakan. Melamar
seorang gadis cantik. Menerbangkan imajinasi tingkat tinggi yang akan membawa
pembaca dalam keindahan bermimpi dan berkhayal. Membangkitkan semangat pembaca
agar bisa meraih semua keabstrakannya.
Larasati, adol lipuring kalbu.
Keindahan
yang akan membuat hati tentram. Kecantikan yang akan mengobati semua resah
gelisah, gundah gulana, sakit hati, dan semua rasa yang menyiksa.
Bandungan . . .
Sumiliring angin gunung, sumingrah
Bahkan
Angin gunungpun ikut berbahagia dengan apa yang telah dirasakan. Apa yang telah
ditemukan dan apa yang telah diraih. Lirih jauh di atas gung merasakan apa yang
pembaca rasakan, penggambaran yang tinggi dari sebuah kisah. Pengindraan rasa
yang besar dalam setiap kata yang digunakan pengarang.
Aweh prasapa marang kang pada teka
Namun,
pengarang mulai membuat konflik di sini. Gadis yang diimpikan memberikan janji
palsu pada setiap yang datang melamar. Memberikan harapan kosong yang tidak
berujung. Di sinilah perbedaan status diungkap.
Para banda kalungan hawa
Semua
yang kaya datang bermodalkan harta benda. Jagad raya ini dipersembahkan, semua
kebutuhan materi dipenuhi demi terpenuhinya mimpi dan keindahan yang
dicita-citakannya. Bermodalkan materi dan tidak memperdulikan perasaan yang
sedang berada di sekitarnya.
Lan penyair sangu graita.
Para
pujangga, bermodalkan kata-kata beranjak dengan penuh harap. Dirangkainya
sebuah syair untuk menggapai mimpinya. Dengan berbekal kata-kata, pujangga
merajut mimpi dengan modalnya. Dengan keahliannya bisa membuat hati
melayang-layang. Modal yang tak bermodal materi membuat impiannya terlalu jauh
dari harapan.
Bandungan, ah bandungan
Lumerahing tlaga ing rawa pening
Terlihat
telaga diantara luasnya rawa. Harapan itu ada untuk orang yang mau berusaha.
Harapan itu ada untuk orang yang sadar dan terbangun dari khayalan semunya.
Iku kedep pepeling,
Harapan
itu memanggil-manggil seperti sudah dekat dan pasti akan mendapatkannya.
Harapan itu untuk dijemput, bukan ditunggu. Harapan tidak akan terkabulkan jika
yang mengharapkan hanya diam dalam posisinya. Pergerakan akan membuat harapan
itu mendekat.
Yen urip iki, Kaya roda gumuling.
Hidup
ini seperti roda yang terus berputar, terkadang berada di posisi atas dan
terkadang berada di posisi bawah. Semuanya tak ada yang abadi. Kegagalan itu
hanya salah satu dari posisi. Posisi akan selalu berubah dengan cara merubahnya
bukan menungggunya berubah. Kesuksesan atas semua mimpi, khayalan, keabstrakan,
dan cita-cita akan menghampiri semua orang yang mau berubah.
Geguritan karya,
M.
Tajib Moerjanto
Jaya
baya No. 9, Oktober 1974
Langganan:
Postingan (Atom)