Kamis, 29 September 2011

Gosip adalah Fakta yang Tertunda

Diposting oleh Iraa di 09.08 0 komentar
Untuk yang satu ini akan menjadi perbincangan yang sangat oke,, tak hanya di dunia hiburan gosip ini berlaku,, di dunia yang sedang dijalani semua orangpun sering ada gosip,, sebagian dari manusia suka berbincang-bincang terlewat batas sehingga yang ada malah ngegosip,, diantara gosip-gosip itu ada yang memang memiliki alasan untuk pendapat yang diungkapkan,, ada juga yang untuk mengisi kekosongan dan asal ngomong,, nach terkadang dari gosip itu terjadi reaksi dari manusia yang merasa tidak aman dengan gosip tentang dirinya,, dengan begitu ada yang merespon dengan biasa-biasa saja,, ada pula yang salah tingkah dan malah membuat seolah semua itu benar,,

Tapi sekedar curhat,, Gosip itu akan menambah rasa yang tidak pasti,, gosip itu sendiri memperparah rasa sakit,, dan gara-gara gosip akan menghancurkan hubungan yang awalnya baik,, iiih kadang sy seneng,, tapi neg buat sakit hati yang menjadi-jadimah malez,,

Selasa, 27 September 2011

Rinduq kesangkut di Gengsi

Diposting oleh Iraa di 10.04 0 komentar
Ketika Rindu ini semakin menggebu di dada,,
Meski dibeberapa kesempatan qt bertemu bertatap muka,, bahkan ngobrol,,, tapi dengan obrolan yang profesional,, senyum manis itu tak aq dapatkan waktu itu,,
sempat qt seperti dua insan yang tak pernah kenal,, tanpa sapaan,, senyuman,, dan tatapan.
Kini rindu ingin bertemu dan bertemu dengan qm yang mengenal aq,, qm yang pernah memanjakan aq,, qm yang pernah mengerti aq,, dan qm yang pernah mengajari aq kedewasaan,,
tapi rinduq sedang nyangkut di Gengsi,, tak mau aq menghubungimu duluan,, tak mau aq menyapamu duluan,, tak mau aq tersenyum duluan,, karena aq sayang qm,, sayang karena qm pernah menjadi teman yang baik bagiq,, terima kasih,, aq ingin qt seperti dulu lagi,, teman,,

Senin, 26 September 2011

Cerita Pandhawa dan Sang Arjuna

Diposting oleh Iraa di 05.23 0 komentar

Indah Rahayu Anggraini

Arjuna didampingi Semar dan Gareng (karya Herjaka HS ) Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di atas Singhasana dihadapap oleh Lesmana Mandrakumara, Pendeta Durna, Patih Sakuni, Adipati Karna, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Durmagati, Citraksa dan Citraksi. Raja mendengar kabar tentang kehebatan Pandhawa, lalu ingin berkunjung ke Ngamarta. Raja minta agar Patih Sakuni mempersiapkan kepergiannya.
Prabu Duryodana masuk ke istana memberitahu kepada permaisuri tentang warga Pandhawa dan kehebatan beritanya. Raja dan permaisuri kemudian santap bersama.
Patih Sakuni dan Adipati Karna mengajak para Korawa untuk segera bersiap-siap pergi ke Ngamarta. Setelah siap mereka berangkat.
Prabu Kresna raja Dwarawati berbicara dengan Patih Udawa, Samba, Satyaki dan Satyaka. Mereka membicarakan berita Arjuna yang ingin memperluas daerah kekuasaannya. Kresna ingin berkunjung ke Ngamarta.
Prabu Jathayaksa raja Guwa Miring dihadap oleh Jathayaksi dan Patih Jathaketu. Raja ingin melamar Dyah Sarimaya putri Prabu Sukendra raja Srawantipura. Ditya Kala Meru diutus menyampaikan surat lamaran. Ditya Kala Meru segera berangkat.
Perjalanan Ditya Kala Meru dan perajurit bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah perselisihan, tetapi perajurit Kala Meru menyimpang jalan.
Angkawijaya menghadap Bagawan Abiyasa mohon doa restu atas cita-cita Arjuna, ayahnya. Bagawan Abyasa merestuinya. Angkawijaya mohon diri, lalu meninggalkan pertapaan. Para panakawan menyertainya.
Prabu Sukendra raja Srawantipura bersedih hati, karena Dyah Sarimaya hamil sebelum bersuami. Sang raja marah setelah diberi tahu oleh Dyah Sarimaya, bahwa ia hamil karena Arjuna. Patih dan Mayakusuma diperintahkan untuk membakar Dyah Sarimaya. Di tengah api bernyala Arjuna masuk untuk melindungi Dyah Sarimaya. Dyah Sarimaya tidak mati terbakar, Arjuna meninggalkan api pembakaran.
Perjalanan Angkawijaya dihadang oleh raksasa Guwa Miring. Terjadilah perkelahian. Perajurit raksasa musnah tidak tersisa.
Prabu Puntadewa raja Ngamarta dihadap oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Prabu Kresna datang menanyakan kabar tentang Arjuna. Patih Sakuni, Adipati Karna dan para Korawa datang. Mereka mendengar cerita Prabu Puntadewa tentang Arjuna. Kresna ingin ke Madukara. Adipati Karna beserta para Korawa heran. Kresna dan Bima pergi ke Madukara.
Arjuna berpesan kepada Gathotkaca dan Angkawijaya, bila orang akan masuk kerajaan Madukara harus melepas keris. Bima datang hendak menemui Arjuna. Gathotkaca menyongsong dengan meminta keris. Bima tidak memberikannya, lalu memaksa masuk ke istana Arjuna. Setelah melangkah masuk ke pintu, Bima berubah jadi perempuan. Bima malu, lalu mundur.
Kresna akan masuk, ditahan oleh Angkawijaya. Keris diminta, tetapi Kresna tidak memberikannya. Kresna memaksa untuk masuk, seketika berubah menjadi perempuan. Kresna malu, pergi lari tanpa berpamitan, menuju ke Suralaya.
Hyang Guru sedang berbicara dengan Hyang Narada. Tiba-tiba Kresna datang. Kresna mengadu, bahwa Arjuna mengumumkan diri sebagai “Lelananging Jagad.” Hyang Guru marah, minta agar Hyang Narada turun ke marcapada.
Hyang Narada tiba di Madukara, diterima oleh Gathotkaca dan dan Angkawijaya. Mereka minta keris Hyang Narada, tetapi tidak diberikannya. Hyang Narada memaksa masuk ke istana Arjuna. Setelah melangkah akan masuk, seketika Hyang Narada berubah menjadi jenis wanita. Hyang Narada berteriak-teriak, melarikan diri, kembali ke Suralaya. Hyang Narada menghadap Hyang Guru, untuk melaporkan kejadiannya tentang Arjuna. Hyang Guru cepat-cepat turun ke marcapada.
Arjuna sedang duduk bersama Gathotkaca dan Angkawijaya. Hyang Guru dan Hyang Narada datang. Mereka menghormat Arjuna yang dilindungi oleh Sang Hyang Jati Wasesa, lalu kembali ke Suralaya.
Kresna dan Bima datang menghormat, Sang Hyang Wisesa memberi tahu kepada Kresna dan Bima, bahwa Arjuna adalah “Lelananging Jagad.” Sesudah memberi tahu kepada Kresna dan Bima, Sang Hyang Wisesa tidak menampakkan diri. Para Pandhawa senang hatinya.
Adipati Karna iri hati, lalu membakar tempat persidangan di Madukara. Gathotkaca dan Angkawijaya menahan kemarahan Adipati Karna dan para Korawa. Mereka dihalau kembali ke Ngastina.
Para Pandhawa berkumpul di Ngamarta, lalu mengadakan pesta kebahagiaan bersama Prabu Kresna.

AJISAKA SEBAGAI DEWASISYA DI DALAM SERAT AJIDARMA-AJINIRMALA KARYA PUJANGGA R.N.G. RANGGAWARSITA

Diposting oleh Iraa di 05.16 0 komentar



DI SUSUN OLEH :
INDAH RAHAYU ANGGRAINI
10/299799/SA/15461

   Judul                                      : Ajisaka sebagai dewasisya Di Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala karya Pujangga R. Ng Ranggawarsita
   Penulis karya Ilmiyah         : Anung Tedjowirawan
   Tebal karya Ilmiyah : 37

Serat Ajidarma-ajinirmala adalah dua buku yang dijadikan satu, yang disusun berdasarkan kitab Musarar dari Rum. Serat Ajidarma-ajinirmala ini adalah karya Pujangga R.N.G. Ranggawarsita.
Dalam Serat Ajidarma, Jaka Sangkala mempunyai guru dari para Dewa di Gunung Kendheng, diantaranya : Empu Ramadi, Sang Hyang Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya.
Sdedangkan dalam Serat Ajinirmala, menceritakan perjalanan Jaka Sangkala di Gunung Alaulu, yang mempunyai guru dari para Dewa juga, diantaranya : Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ening, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Pramesthi Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, dan Sang Hyang Kamajaya.
Kedua Serat ini membicarakan tentang Pengetahuan Suci, Petunjuk Dharma, Petunjuk untuk membentengi diri dari perbuatan jahat.

Ajisaka adalah tokoh Pahlawan Kebudayaan dan juga Tokoh spiritual. Terbukti banyaknya kitab yang membahas tentang Ajisaka.
Menurut Legenda Ajisaka Resistensi Gaya Tengger. Masyarakat Suku Tengger merupakan salah satu masyarakat yang hidup di Pegunungan Bromo di kawasan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang-Malang.
Asal cerita Masyarakat Tengger terbentuk dari pelarian prajurit dan penduduk Majapahit ketika suatu Ketika Kerajaan tersebutdiserang oleh Kerajaan Demak. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melarikan diri dan sampai di Pegunungan Tengger.
Dengan menyandang status suku pelarian, mereka membuat suatu kelompok dengan berbagai basic pranata sosial, mereka memiliki berbagai karakteristi sosial, budaya, politik, dan agama. Dengan perbedaan-perbedaan tersebut mereka menjadi masyarakat yang saling melengkapi tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Keterkaitan politik, sosial, dan agama yang harus dipertahankan.
Orang Tengger memiliki petunjuk yang mengarah kepada keharmonisan dan kelestarian dalam persaudaraan, seperti yang terdapat dalam sesanti pancasetia (lima petunjuk kesetiaan), yaitu :
·       Setya Budaya ( taat dan hormat kepada adat )
·       Setya Wacana ( kata harus sesuai perbuatan )
·       Setya Semaya ( Selalu menepati janji )
·       Setya Laksana ( bertanggungjawab terhadap Tugas )
·       Setya Mitra ( Selalu membangun Kesetiakawanan ).
Untuk mencapai kesejahteraan hidup, orang Tengger harus menjauhi Malima :
Ø Maling ( mencuri )
Ø Main ( main Judi )
Ø Madat ( mengisap Candu )
Ø Minum ( mabuk minuman Keras )
Ø Madon ( main Perempuan ).

Dan harus menjaga Walima :
v Waras ( Sehat jasmani dan Rohani )
v Wareg ( Cukup makan )
v Wastra ( Cukup Sandang )
v Wasis ( Cukup Ilmu Pengetahuan )
v Wisma ( memiliki tempat tinggal yang tepat ).
Dalam Artikel Dr. Bisry Effendy, Direktur Lembaga Kebudayaan Desantara dan Peneliti dari LIPI ini menyangkut bagaimana masyarakat Tengger melakukan Resistansi dengan menciptakan legenda Ajisaka.
Dalam cerita hidup sepasang suami istri Pegunungan Tengger, Kyai dan Nyai Kures. Mereka hidup miskin dan mata pencahariannya adalah mencari kayu bakar. Anaknya yang bernama Dursila mempunyai niat buruk.
Pada suatu hari Kyai Kures bertemu dengan ular yang namanya Antaboga. Kyai Kures dililit ular tersebut, dan kemudian membuat perjanjian Kyai Kures harus memberi dua kaleng susu setiap hari pada ular Antaboga tersebut. Arena sering merasa sulit dengan perjanjian tersebut, Antaboga merasa iba dan memberikan emas yang melimpah yang keluar dari muntahan mulutnya.
Kyai Kures menjadi kaya raya dan anaknya yang bernama Dursila itu merasa iri yang kemudian mencari si Antaboga untuk dipaksa mengeluarkan emas dari muntahan mulutnya. Si Antaboga marah dan menelan hidup-hidup Si Dursila.
Kyai Kures bersedih, karena kehilangan anak satu-satunya. Dan di kemudian hari Kyai Kures memiliki seorang Putra yang berparas Ganteng, yang diberi nama Ajisaka. Atas usulan dari Si Ular Antaboga, Ajisaka berguru kepada Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Setelah selesai menuntut Ilmu dari Makkah, Ajisaka mendapat dua oleh-oleh dari Nabi Muhammad SAW berupa Lontar dan Alat tulis. Ketika sampai di Tengger, Ajisaka baru menyadari jika Lontarnya ketinggalan di Makkah. Maka dari itu Ajisaka menurunkan perintah pada Ana untuk pergi ke Makkah untuk mengambil Lontar.
Di saat yang bersamaan pula Nabi Muhammad SAW mengutus Alif untuk mengantar Lontar ke Tengger. Ternyata keduanya bertemu dan terjadi perebutan dan sampai perang yang berakhir keduanya tewas.
Ketika ajisaka mendengar kabar tersebut, ia lalu bersajak “Ana Caraka Data Sawala Padha Jayanya Maga Bathanga”  yang sampai sekarang masih berfungsi menjadi aksara jawa.
Dinamika masyarakat Tengger berkaitan dengan Legenda Ajisaa yang bisa menunjukan perubahan sosial dari pranata sosial. Misalnya berbagai kearifan lokal masyarakat Tengger yang searang sudah mulai hilang, karena tertelan zaman.
Beberapa perubahan Pranata sosial masyarakat Tengger, yaitu :
ü Dari segi keagamaan masih tidak jelas posisi agamayang dianut masyarakat Tengger.
ü Dari segi sosial, adat peninggalan dari leluhur mulai ditinggalkan oleh generasi penerus, kebanyakan mereka yang tua yang masih meneruskan adat dari leluhurnya, sementara kaum muda bersifat Ahistoris.
ü Dari segi struktur sosial,masyarakat Tengger terganggu dengan peraturan formal pemeritah, contohnya UU.
ü Dari segi ekonomi, terdapat peningkatan yang cukup signifikan bukan hanya karena di daerah Tengger terdapat kawasan wisata Gunung Bromo, melainkan karena produktivitas yang meningkat dalam sistem pertanian.
ü Dari segi budaya dan adat terdapat pergeseran menuju hal-hal yang lebih komersial ( generasi muda ) di tengah upaya sebagian kecil generasi tua untuk terus melestarikan warisan leluhurnya.
Dalam konteks lain, dalam buku berbahasa Belanda berjudul Javaan Schrift tulisan Van der Mollen. Syair Aksara Jawa masih sulit dicari asal usulnya .


Ajisaka sebagai tokoh Mitologi, Ajisaka adalah Raja Kerajaan Surati putra dari Prabu Isawaka putra dari Bathara Ramayadhi, cucu Sang Hyang Rama Prawa, cicit Sang Hyang Hening. Seperti tertera dalam Serat Paramayoga maupun Serat Purwapada karya R. N. G. Ranggawarsita.
Pendapat lain dari Bhikhu Dhammasubho Mahathera bahwa suu Sakya semula di kenal sebagai bangsa Arya, Indo-Jerman. Suku Sakya ini telah mengenal sastra, budaya, masyarakat Suku Sakya mengikuti kelompok berlayar ke Nusantara mendarat di pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Pendaratan tersebut mereka kenang sebagai Tahun Caka. Selain itu juga membuat kamus dan menyusun bahasa dari bahasa Pali turun Ke bahasa Dewa Nagari, kemudian diubah dan dikembangkan kedalam bahasa Jawa menjadi huruf Pallawa ( Pali-Jawa ). Selanjutnya turun menjadi bahasa Kawi ( Jawa kuno ), kemudian menjadi dua puluh huruf pasif (ho no co ro ko // do to so wo lo // po dho jo yo nyo // mo go bo tho ngo), dan delapan huruf hidup, yaitu : pepet, pelik, taling, taling-tarung, layar, cakra, suku, dan pangku.
Adapun cerita Ajisaka yang di kenal masyarakat luas adalah cerita yang meriwayatkan seorang pahlawan muda di negri asing di bawah pemerintahan seorang raja yang suka makan daging manusia. Kemudian Ajisaka menawarkan diri untuk menjadi Raja. Sang raja hanya memberi kekuasaan kepada Ajisaka sebesar destar. Tapi kemudian destar itu membesar dan menutupi semua daerah kekuasaan Sang raja dan akhirnya Sang Raja mengakui kekalahannya.
Sang Raja memberi sebuah senjata kepada ajisaka yang dititipkan lewat pengawalnya yang harus di kasihkan kepada Ajisaka sendiri, sedangkan Ajisaka mengirimkan pengawal untuk mengambil senjata itu. Terjadilah perang hebat yang mengakibatkan tewasnya edua pengawal Raja itu.
Ajisaka mengucapkan :
Ha na ca ra ka da ta sa wa la, pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga
Yang berarti :
Ada abdi-abdi yang terlibat dalam perkelahian, dan yang telah menemui ajalnya, oleh karena mereka sama kuatnya.


Masyarakat Jawa berinisiatif untuk menyusun huruf konsonannya berupa :
H n c r k d t s w l p dh j y ny m g b th ng.
Dalam masalah ini Brandes meyakinkan bahwa cerita tersebut dalam bentuk legenda memberitahukan sebuah fakta tentang masukknya peradaban Hindu di tanah Jawa. Saka adalah perubahan dalam bahasa Jawa dari kata sanskerta syaka, yang di India artinya “ Bangsa scyth “, tetapi dalam bahasa Jawa bentuk kata majemuk syakakala, yang diambil dari tarikh Ajisaka yaitu “Raja Saka”.
Dalam Legenda Bawean, Tokoh pembantu ajisaka yang dihormati adalah Dora dan sembada. Kedua tokoh inilah yang berperang dalam peperangan yang membuat mereka wafat.
Serat Ajidarma-Ajinirmala sebagai Karya sufisme. Yakni dipakai sebagai bahan utama tulisan ini adalah naskah Serat Ajidarma-Ajinirmala koleksi perpustakaan Radyapustaka Surakarta. Serat Ajidarma-Ajinirmala adalah salah satu bentuk dari Prosa.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala ini, ragam bahasa Jawa Krama yang di pakai lebih ke arah Bahasa Jawa Krama Inggil. Serat Ajidarma-Ajinirmala di pakai juga dalam pengajaran ilmu pengetahuan.
Naratif Jaka Sangkala dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala dan beberapa perbandingan dengan sumber cerita lain.
Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala diceritakan bahwa Jaka Sangkala atau sebutan bagi Ajisaka, pertama kalinya menginjakkan di tanah Jawa adalah Di Gunung Kendheng.
Dalam Serat Djangka Djajabaja terjemahan tim Museum RadyaPustaka Surakarta yang diketuai R. M. T. Setyoso tjokrodipuro di kemukakan bahwa pada suatu hari Prabu Jayabaya Raja Kediri kedatangan pendeta Sakti dari kerajaan Rum bernama Molana Ngali samsuzen. Baginda dan pendeta sakti itu bertukar pendapat dan pikiran tentang Ilmu Pengetahuan.



Ajisaka sebagai Dewasisya dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala, yaitu :
o   Pelajaran Ghaib dari beberapa Dewa
o   Penamaan dalam waktu
o   Penamaan hari, bulan dan tahun.
Kini dipastikan dalam Karya Ilmiyah Ajisaka adalah seorang pahlawan kebudayaan (culture Hero) bagi masyarakat Jawa. Naratif tokoh spiritual. Putra sang dewa, sang raja dan sang ulama.





Sumber dari Effendy, Bisry. 2003. Legenda Ajisaka: Resistensi Gaya Tengger. Majalah ngaji Budaya, Desantara dan Pospek Averroes.

Geguritan : Bandungan

Diposting oleh Iraa di 05.12 0 komentar

BANDUNGAN

Bandungan . . .
Artinya adalah kebersamaan, pengarang menjabarkan bagaimana ketika seseorang sedang mengingat akan kebersamaannya dengan orang yang istimewa di hatinya. Bandungan juga bisa berarti suatu tempat yang mempertemukan seseorang dengan orang yang dianggap istimewa tersebut. Tempat yang special bagi seseorang dan orang yang diistimewakan.
Esemmu, ah esemmu
Pengarang menggambarkan bagaimana orang yang sedang teringat dengan senyuman seseorang yang menyihir hati, jiwa, dan raganya. Senyuman yang mampu memasuki relung jiwa seseorang dan bisa membuat orang itu mati dalam beberapa detik dalam artian terlalu indah dan manisnya, sehingga membuat terpesona.
Ngujiwat, nyasapi sadawaning laku
Lirikan mata yang selalu menjadi bayang-bayang setiap kaki melangkah. Pengarang menciptakan sebuah rasa yang bisa membangkitkan pembaca dalam imajinasinya. Memberikan kebebasan pada pembaca untuk menginginkan rasa yang seperti apa. Setiap langkah yang terus diikuti oleh ingatan atas orang yang dianggap istimewa.
Nganti ati lan ati pada kelayu
Rasa yang seperti inilah yang membuat hati tersiksa, memenjarakanhati pada rasa yang penuh Tanya. Digantung tak menentu antara iya atau tidak, antara maju atau mundur, antara diam atau bicara. Semua serba salah.
Ngluru apa kang bisa didulu lan diburu
Mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya yang berhubungan dengan sakit hatinya yang mendalam. Mencari sebuah jawaban dari sesuatu yang akan dia temukan.
Prawan ayu sumadya katuku

Mencoba membawa pembaca dalam khayalan dan mimpi yang penuh dengan keabstrakan. Melamar seorang gadis cantik. Menerbangkan imajinasi tingkat tinggi yang akan membawa pembaca dalam keindahan bermimpi dan berkhayal. Membangkitkan semangat pembaca agar bisa meraih semua keabstrakannya.
Larasati, adol lipuring kalbu.
Keindahan yang akan membuat hati tentram. Kecantikan yang akan mengobati semua resah gelisah, gundah gulana, sakit hati, dan semua rasa yang menyiksa.
Bandungan . . .
Sumiliring angin gunung, sumingrah
Bahkan Angin gunungpun ikut berbahagia dengan apa yang telah dirasakan. Apa yang telah ditemukan dan apa yang telah diraih. Lirih jauh di atas gung merasakan apa yang pembaca rasakan, penggambaran yang tinggi dari sebuah kisah. Pengindraan rasa yang besar dalam setiap kata yang digunakan pengarang.
Aweh prasapa marang kang pada teka
Namun, pengarang mulai membuat konflik di sini. Gadis yang diimpikan memberikan janji palsu pada setiap yang datang melamar. Memberikan harapan kosong yang tidak berujung. Di sinilah perbedaan status diungkap.
Para banda kalungan hawa
Semua yang kaya datang bermodalkan harta benda. Jagad raya ini dipersembahkan, semua kebutuhan materi dipenuhi demi terpenuhinya mimpi dan keindahan yang dicita-citakannya. Bermodalkan materi dan tidak memperdulikan perasaan yang sedang berada di sekitarnya.
Lan penyair sangu graita.
Para pujangga, bermodalkan kata-kata beranjak dengan penuh harap. Dirangkainya sebuah syair untuk menggapai mimpinya. Dengan berbekal kata-kata, pujangga merajut mimpi dengan modalnya. Dengan keahliannya bisa membuat hati melayang-layang. Modal yang tak bermodal materi membuat impiannya terlalu jauh dari harapan.
Bandungan, ah bandungan
Lumerahing tlaga ing rawa pening
Terlihat telaga diantara luasnya rawa. Harapan itu ada untuk orang yang mau berusaha. Harapan itu ada untuk orang yang sadar dan terbangun dari khayalan semunya.
Iku kedep pepeling,
Harapan itu memanggil-manggil seperti sudah dekat dan pasti akan mendapatkannya. Harapan itu untuk dijemput, bukan ditunggu. Harapan tidak akan terkabulkan jika yang mengharapkan hanya diam dalam posisinya. Pergerakan akan membuat harapan itu mendekat.
Yen urip iki, Kaya roda gumuling.
Hidup ini seperti roda yang terus berputar, terkadang berada di posisi atas dan terkadang berada di posisi bawah. Semuanya tak ada yang abadi. Kegagalan itu hanya salah satu dari posisi. Posisi akan selalu berubah dengan cara merubahnya bukan menungggunya berubah. Kesuksesan atas semua mimpi, khayalan, keabstrakan, dan cita-cita akan menghampiri semua orang yang mau berubah.






Geguritan karya,
M. Tajib Moerjanto
Jaya baya No. 9, Oktober 1974
 

IRA_Queen Wanna be Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review