Indah
Rahayu Anggraini
Arjuna didampingi
Semar dan Gareng (karya Herjaka HS ) Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di
atas Singhasana dihadapap oleh Lesmana Mandrakumara, Pendeta Durna, Patih
Sakuni, Adipati Karna, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Durmagati, Citraksa
dan Citraksi. Raja mendengar kabar tentang kehebatan Pandhawa, lalu ingin
berkunjung ke Ngamarta. Raja minta agar Patih Sakuni mempersiapkan
kepergiannya.
Prabu Duryodana
masuk ke istana memberitahu kepada permaisuri tentang warga Pandhawa dan
kehebatan beritanya. Raja dan permaisuri kemudian santap bersama.
Patih Sakuni dan
Adipati Karna mengajak para Korawa untuk segera bersiap-siap pergi ke Ngamarta.
Setelah siap mereka berangkat.
Prabu Kresna raja
Dwarawati berbicara dengan Patih Udawa, Samba, Satyaki dan Satyaka. Mereka
membicarakan berita Arjuna yang ingin memperluas daerah kekuasaannya. Kresna
ingin berkunjung ke Ngamarta.
Prabu Jathayaksa
raja Guwa Miring dihadap oleh Jathayaksi dan Patih Jathaketu. Raja ingin
melamar Dyah Sarimaya putri Prabu Sukendra raja Srawantipura. Ditya Kala Meru
diutus menyampaikan surat lamaran. Ditya Kala Meru segera berangkat.
Perjalanan Ditya
Kala Meru dan perajurit bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah
perselisihan, tetapi perajurit Kala Meru menyimpang jalan.
Angkawijaya
menghadap Bagawan Abiyasa mohon doa restu atas cita-cita Arjuna, ayahnya.
Bagawan Abyasa merestuinya. Angkawijaya mohon diri, lalu meninggalkan
pertapaan. Para panakawan menyertainya.
Prabu Sukendra raja
Srawantipura bersedih hati, karena Dyah Sarimaya hamil sebelum bersuami. Sang
raja marah setelah diberi tahu oleh Dyah Sarimaya, bahwa ia hamil karena
Arjuna. Patih dan Mayakusuma diperintahkan untuk membakar Dyah Sarimaya. Di
tengah api bernyala Arjuna masuk untuk melindungi Dyah Sarimaya. Dyah Sarimaya
tidak mati terbakar, Arjuna meninggalkan api pembakaran.
Perjalanan
Angkawijaya dihadang oleh raksasa Guwa Miring. Terjadilah perkelahian.
Perajurit raksasa musnah tidak tersisa.
Prabu Puntadewa raja
Ngamarta dihadap oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Prabu Kresna datang menanyakan
kabar tentang Arjuna. Patih Sakuni, Adipati Karna dan para Korawa datang.
Mereka mendengar cerita Prabu Puntadewa tentang Arjuna. Kresna ingin ke Madukara.
Adipati Karna beserta para Korawa heran. Kresna dan Bima pergi ke Madukara.
Arjuna berpesan
kepada Gathotkaca dan Angkawijaya, bila orang akan masuk kerajaan Madukara
harus melepas keris. Bima datang hendak menemui Arjuna. Gathotkaca menyongsong
dengan meminta keris. Bima tidak memberikannya, lalu memaksa masuk ke istana
Arjuna. Setelah melangkah masuk ke pintu, Bima berubah jadi perempuan. Bima
malu, lalu mundur.
Kresna akan masuk,
ditahan oleh Angkawijaya. Keris diminta, tetapi Kresna tidak memberikannya.
Kresna memaksa untuk masuk, seketika berubah menjadi perempuan. Kresna malu,
pergi lari tanpa berpamitan, menuju ke Suralaya.
Hyang Guru sedang
berbicara dengan Hyang Narada. Tiba-tiba Kresna datang. Kresna mengadu, bahwa
Arjuna mengumumkan diri sebagai “Lelananging Jagad.” Hyang Guru marah, minta
agar Hyang Narada turun ke marcapada.
Hyang Narada tiba di
Madukara, diterima oleh Gathotkaca dan dan Angkawijaya. Mereka minta keris
Hyang Narada, tetapi tidak diberikannya. Hyang Narada memaksa masuk ke istana
Arjuna. Setelah melangkah akan masuk, seketika Hyang Narada berubah menjadi
jenis wanita. Hyang Narada berteriak-teriak, melarikan diri, kembali ke
Suralaya. Hyang Narada menghadap Hyang Guru, untuk melaporkan kejadiannya
tentang Arjuna. Hyang Guru cepat-cepat turun ke marcapada.
Arjuna sedang duduk
bersama Gathotkaca dan Angkawijaya. Hyang Guru dan Hyang Narada datang. Mereka
menghormat Arjuna yang dilindungi oleh Sang Hyang Jati Wasesa, lalu kembali ke
Suralaya.
Kresna dan Bima
datang menghormat, Sang Hyang Wisesa memberi tahu kepada Kresna dan Bima, bahwa
Arjuna adalah “Lelananging Jagad.” Sesudah memberi tahu kepada Kresna dan Bima,
Sang Hyang Wisesa tidak menampakkan diri. Para Pandhawa senang hatinya.
Adipati Karna iri
hati, lalu membakar tempat persidangan di Madukara. Gathotkaca dan Angkawijaya
menahan kemarahan Adipati Karna dan para Korawa. Mereka dihalau kembali ke
Ngastina.
Para Pandhawa
berkumpul di Ngamarta, lalu mengadakan pesta kebahagiaan bersama Prabu Kresna.
0 komentar:
Posting Komentar