BANDUNGAN
Bandungan . . .
Artinya
adalah kebersamaan, pengarang menjabarkan bagaimana ketika seseorang sedang mengingat
akan kebersamaannya dengan orang yang istimewa di hatinya. Bandungan juga bisa
berarti suatu tempat yang mempertemukan seseorang dengan orang yang dianggap
istimewa tersebut. Tempat yang special bagi seseorang dan orang yang
diistimewakan.
Esemmu, ah esemmu
Pengarang
menggambarkan bagaimana orang yang sedang teringat dengan senyuman seseorang
yang menyihir hati, jiwa, dan raganya. Senyuman yang mampu memasuki relung jiwa
seseorang dan bisa membuat orang itu mati dalam beberapa detik dalam artian
terlalu indah dan manisnya, sehingga membuat terpesona.
Ngujiwat, nyasapi sadawaning laku
Lirikan
mata yang selalu menjadi bayang-bayang setiap kaki melangkah. Pengarang
menciptakan sebuah rasa yang bisa membangkitkan pembaca dalam imajinasinya.
Memberikan kebebasan pada pembaca untuk menginginkan rasa yang seperti apa.
Setiap langkah yang terus diikuti oleh ingatan atas orang yang dianggap istimewa.
Nganti ati lan ati pada kelayu
Rasa
yang seperti inilah yang membuat hati tersiksa, memenjarakanhati pada rasa yang
penuh Tanya. Digantung tak menentu antara iya atau tidak, antara maju atau
mundur, antara diam atau bicara. Semua serba salah.
Ngluru apa kang bisa didulu lan diburu
Mencari
sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya yang berhubungan dengan sakit
hatinya yang mendalam. Mencari sebuah jawaban dari sesuatu yang akan dia
temukan.
Prawan ayu sumadya katuku
Mencoba
membawa pembaca dalam khayalan dan mimpi yang penuh dengan keabstrakan. Melamar
seorang gadis cantik. Menerbangkan imajinasi tingkat tinggi yang akan membawa
pembaca dalam keindahan bermimpi dan berkhayal. Membangkitkan semangat pembaca
agar bisa meraih semua keabstrakannya.
Larasati, adol lipuring kalbu.
Keindahan
yang akan membuat hati tentram. Kecantikan yang akan mengobati semua resah
gelisah, gundah gulana, sakit hati, dan semua rasa yang menyiksa.
Bandungan . . .
Sumiliring angin gunung, sumingrah
Bahkan
Angin gunungpun ikut berbahagia dengan apa yang telah dirasakan. Apa yang telah
ditemukan dan apa yang telah diraih. Lirih jauh di atas gung merasakan apa yang
pembaca rasakan, penggambaran yang tinggi dari sebuah kisah. Pengindraan rasa
yang besar dalam setiap kata yang digunakan pengarang.
Aweh prasapa marang kang pada teka
Namun,
pengarang mulai membuat konflik di sini. Gadis yang diimpikan memberikan janji
palsu pada setiap yang datang melamar. Memberikan harapan kosong yang tidak
berujung. Di sinilah perbedaan status diungkap.
Para banda kalungan hawa
Semua
yang kaya datang bermodalkan harta benda. Jagad raya ini dipersembahkan, semua
kebutuhan materi dipenuhi demi terpenuhinya mimpi dan keindahan yang
dicita-citakannya. Bermodalkan materi dan tidak memperdulikan perasaan yang
sedang berada di sekitarnya.
Lan penyair sangu graita.
Para
pujangga, bermodalkan kata-kata beranjak dengan penuh harap. Dirangkainya
sebuah syair untuk menggapai mimpinya. Dengan berbekal kata-kata, pujangga
merajut mimpi dengan modalnya. Dengan keahliannya bisa membuat hati
melayang-layang. Modal yang tak bermodal materi membuat impiannya terlalu jauh
dari harapan.
Bandungan, ah bandungan
Lumerahing tlaga ing rawa pening
Terlihat
telaga diantara luasnya rawa. Harapan itu ada untuk orang yang mau berusaha.
Harapan itu ada untuk orang yang sadar dan terbangun dari khayalan semunya.
Iku kedep pepeling,
Harapan
itu memanggil-manggil seperti sudah dekat dan pasti akan mendapatkannya.
Harapan itu untuk dijemput, bukan ditunggu. Harapan tidak akan terkabulkan jika
yang mengharapkan hanya diam dalam posisinya. Pergerakan akan membuat harapan
itu mendekat.
Yen urip iki, Kaya roda gumuling.
Hidup
ini seperti roda yang terus berputar, terkadang berada di posisi atas dan
terkadang berada di posisi bawah. Semuanya tak ada yang abadi. Kegagalan itu
hanya salah satu dari posisi. Posisi akan selalu berubah dengan cara merubahnya
bukan menungggunya berubah. Kesuksesan atas semua mimpi, khayalan, keabstrakan,
dan cita-cita akan menghampiri semua orang yang mau berubah.
Geguritan karya,
M.
Tajib Moerjanto
Jaya
baya No. 9, Oktober 1974
0 komentar:
Posting Komentar