Hidup
dalam suatu masyarakat komoditas, dimana didalamnya berlangsung pemproduksian
suatu proses yang menimbulkan suatu pandangan yang akan menjadi gaya hidup.
Dalam masyarakat komoditas akan cenderung
produksi massa yang telah terlebih dahulu menyapa masyarakatnya. Dengan
berani mengawali suatu ide yang didapat dari budaya atau gaya hidup orang lain,
kemudian menjadikannya gaya hidup dimasa sekarang. Bahkan gaya hidup menjadi
komoditas dan komoditas didesain untuk mengkonstruksi gaya hidup. Gaya hidup
menuntut manusia untuk selalu mengikuti arus yang sedang berjalan, jika tidak
mengikuti akan dirasa ketinggalan jaman dan akan asing dari lingkungan yang
sedang mengikuti gaya hidup.
Alat
komunikasi adalah salah satu barang yang menjadi suatu gaya hidup. Dengan masa
yang sekarang ini membutuhkan segalanya serba instan memaksa masyarakat harus
cepat untuk bertukar informasi melalui media alat komunikasi. Katakanlah HP. HP
di sini selain untuk saling berkomunikasi antara satu orang dengan yang lain,
sekarang banyak digunakan untuk kebutuhan yang lain. Misalnya HP untuk
memainkan musik, untuk memakai fasilitas internet, dan yang terbaru kini untuk
“BBM-an”. Masyarakat sekarang memiliki gaya hidup memakai HP yang memiliki
fasilitas “BBM-an”, dimana di sana ditemukan fitur yang mirip dengan fungsi social network. Tetapi “BBM-an”
dikhususkan untuk pengguna HP tertentu yang kini menjadi suatu kewajiban para
remaja. Namun kewajiban di sini bukan termasuk kebutuhan pokok, tetapi remaja
yang tidak menggunakannya akan merasa asing dengan komunitas-komunitas yang
mengikuti gaya hidup. Selain itu komunikasi yang disebutkan untuk fungsi dari HP
akan menjadi terhambat karena dengan memakai fasilitas “BBM-an” akan menambah
biaya yang tidak sedikit untuk menikmati fasilitas tersebut. Karena lebih
banyak yang mengikuti gaya hidup, jadi untuk fungsi utama HP tidak difungsikan.
Maksudnya membeli pulsa untuk fitur “BBM” dan tidak membeli pulsa Reguler yang
bisa digunakan untuk menelpon atau “SMS”.
Gaya
hidup semacam jurang ketidaksadaran untuk mengikuti dan terus mengikuti apa
yang sedang berjalan. Dan gaya hidup itu akan terus berubah mengikuti arus dan
itu mengakibatkan manusia mengikuti sesuatu yang berubah-ubah atau tidak pasti.
Begitu juga dengan budaya tradisional yang akan terganggu dengan gaya hidup
asing yang masuk dalam masyarakat luas. Yang terjadi adalah penyamaan produk
agar menjadi jalan tengah antara keduanya. Gaya hidup pun telah menjadi
kekuatan yang dinamis dan revolisioner dalam meruntuhkan batas-batas kelas,
tradisi, cita rasa, dan ia pun telah melarutkan semua perbedaan budaya.
Cara-cara
gaya hidup merasuki masyarakat adalah dengan cara ada dan dilihat, kemudian
sesring dibicarakan sehingga juga sering didengar kemudian mengikutinya. Sangat
singkat dan meraih kepopularitasannya tidak lama yang kemudian digeser dengan
gaya hidup yan lain yang dianggap lebih baik dan akan mengikuti jaman. Disaat
masyarakat mengikuti gaya hidup itu akan merasakan bagaimana pergeseran dari
mode-mode yang berjalan. Misalnya dari HP yang biasa saja tidak berwarna dan polyphonic. Berkembang menjadi HP yang
memiliki banyak tombol yang sama dengan keyboard
komputer atau laptop. Atau HP yang banyak modelnya dari yang datar, slide
sampai layar sentuh. Begitu juga dengan fungsi yang semakin membuat orang
dimanjakan dengan alat komunikasi, misalnya untuk foto, memutar musik,
menjelajahi internet dan tentunya sekarang ini “BBM-an”.
Dengan
gaya hidup yang selalu berubah mengikuti arus dan membawa para manusia untuk
mengikutinya tentu membuat suatu pemikiran seseorang yang dalam hidupnya tidak
bisa mengikuti gaya hidup atau bahkan tidak mau mengikuti gaya hidup karena
gaya hidup yang tidak lama pasti mengalami
perubahan dan menjadikan rugi para pengikutnya.
Tidak
bisa dipungkiri gaya hidup menjadi segala-galanya bagi masyarakat luas. Gaya
hidup sebegitu berkuasa di tengah masyarakat yang dalam proses kehidupannya
hanya untuk mengikuti gaya hidup yang lain. Mereka terpesona dengan gaya yang
akan terus berputar dan tidak menjaga kebudayaan yang sudah ada. Secara logika
memang sangat tragis, tapi dengan gaya hidup masyarakat akan memiliki pendapat
yang akan menguatkan perbuatannya.
dari berbagai sumber,, Indah Rahayu Anggraini