Aku bersyukur bisa hidup di Kudus untuk 2 tahun terakhir
ini, setelah 4 tahun hidup di Jogja. Seandainya aku lanjut di Jogja, mungkin seterusnya aku tidak akan mengenal Kudusku. Aku tidak sedekat ini dengan teman-teman semasa SD-ku, tidak memiliki sahabat di Kudus, tidak mengenal Risdi dan teman-temannya. Aku tidak akan merasakan Sakitnya dibilang Bodoh oleh seseorang, tanpa dia tau,
bagaimana aku jatuh bangun untuk belajar hingga akhirnya aku menyelesaikan
studi S1ku. Sakitnya dibilang tidak mau belajar, padahal aku adalah orang yang
paling rajin dan kaku menurut beberapa teman yang dekat denganku. Sakitnya
dibilang Sarjana nyasar. Sakitnya tidak bisa melakukan apa-apa karena memang
belum memiliki passion, pandangan tentang pekerjaan. Bukan karena tidak bisa
melakukan apa-apa, tapi memang belum terbiasa dan belum berpikir. Baru mencoba
menempatkan hati menerima lingkungan. Selain itu, aku juga tidak akan merasakan sakitnya jadi bahan gosip,
gosip yang tidak pernah bisa aku konfirmasikan. Gosip yang tidak pernah bisa
aku luruskan. Gosip yang tidak berujung.
Waktu itu, Semua orang bertanya "Kok Mbak IRA bisa kuat sih?". Aku bahkan tidak bisa menjawab, karena aku kuat, karena sebenarnya aku belum melakukan apa-apa, bahkan ketika aku melakukan sesuatu yang salah, seharusnya dijadikan maklum karena memang aku belum mengerti dan tidak sengaja melakukan suatu kesalahan, semacam belum tau mana yang salah dan mana yang benar. Atau sebenarnya aku kuat, karena sebelumnya, diperkuliahan semester pertamaku, atau semester awal-awal, aku juga sedikit mendapatkan treatment yang cukup menyita energi, emosi dan mendapatkan sedikit tekanan.Tetapi waktu itu, aku tidak menjalaninya sendiri, aku bersama dengan teman-temanku, saling menyemangati, saling berbahagia dan menghibur diri. Ketika aku di sini, aku benar-benar
sendiri. Tidak ada seseorangpun yang bisa aku andalkan. Tidak ada yang bisa
membelaku atau sekedar berdiri di belakangku. Bahkan waktu itu, akupun tidak
bisa menulis, tidak tahu dikarenakan apa, yang jelas, buku harianpun tidak bisa ku
isi. Orang-orang yang mengetahui aku diseperti itukan hanya bisa menjadi saksi. Orang-orang itu tidak bersalah dan aku tidak menyalahkan mereka yang tidak ada untukku. Orang-orang itu sudah seperti seharusnya. Seiring jalannya waktu, aku semakin menyayangi orang-orang itu, Mereka sangat baik dan i can't explain it again. Untuk seseorang itu. Aku bukan tidak memaafkan. Tapi memang tidak terlupakan.
Maafkan aku yang tidak bisa melupakan. And You will regret it if i do it properly.
0 komentar:
Posting Komentar