Di Indonesia
khususnya dibelantika musik Indonesia sedang ramai dengan grup musik yang
berjenis “Boyband”. Di pagi hari
banyak acara televisi serupa yang bergenre musik variety show menghadirkan musisi-musisi yang sedang laris
dipasaran. Pada satu tahun terakhir ini mulai ramai dengan boyband yang menawarkan dance
atau koreografi yang memiliki karakter, di atas panggung dengan menyanyikan
sebuah lagu, gerakan yang seragam dengan musik dan lirik lagu yang sedang
dibawakan. Serentak tontonan ini menjadi konsumsi baru bagi penikmat musik
Indonesia, namun berbeda dengan orang yang membuka wawasannya dengan musik luar
negri, katakanlah Korea, Negara Gingseng ini lebih dulu memboomingkan boyband. Korea
sukses melahirkan boyband dan girlsband yang berkualitas dan multitalent. Sebelum boyband dan girlsband menjamur dibelantika musik Indonesia, di Jakarta sempat
mengudang secara langsung boyband dan
girlsband asli dari Korea. Dua konser
besar yang diadakan di Jakarta dengan suguhan Boyband dan Girlsband asal
Korea yang sedang melejit namanya misalnya : Shinee dan Super Junior,
dua konser besar itu terselenggara dan meraih sukses, dengan harga tiket yang
berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 2.000.000,-
Hal tersebut
membuat para kreator musik Indonesia menunjukkan aksinya, membuat boyband dan girlsband yang ditujukan untuk penikmat musik di Indonesia berharap
meraih kesuksesan yang sama bahkan dapat menjadi pesaing utama bagi boyband dan girlsband ternama asal Korea. Disatu sisi ide baru tersebut dapat
memperkaya ilmu pengetahuan bermusik, memperluas dunia permusikan di Indonesia,
dan memberikan suguhan baru. Di sisi lain, ide baru tersebut terlihat secara
jelas jika boyband dan girlsband bukan budaya dari Indonesia. Ide
tersebut membuat sebagian orang berpendapat bahwa boyband Indonesia hanya menjiplak boyband Korea, beberapa boyband
dan girlsband rintisan Indonesia
memaksakan diri untuk membentuk sebuah boyband
secara instan, modal seadanya dan
hanya bisa lip-sync (tidak menyanyi
secara live, melainkan memutar
rekaman yang telah melalui proses editing). Penonton tidak bodoh dengan
tontonan seperti itu, dimana microphone tidak berfungsi sebagai pengeras suara
atau penyalur suara, tetapi sebagai pelengkap akting, agar terlihat menyanyi
sambil menari layaknya boyband,
padahal tim dari Stage Manager
memutar rekaman lagu yang telah masuk di dapur rekaman, memasuki editing suara
dan lain-lain, dance yang terlihat
terpaksakan seragam dengan lirik lagu dan iringan musik. Beberapa boyband dan girlsband rintisan Indonesia ada yang tak sekalipun mereka berani tampil
sepenuhnya secara langsung. Mereka hanya berani melakukan dance dan berakting layaknya sedang menyanyi, mungkinkah karena
ketidakpercayadirian mereka dalam berkreasi atau memang dari peralatan yang
belum lulus standard yang mereka ajukan sebagai boyband, beberapa kejadian itu menunjukkan bahwa boyband itu sendiri bukan budaya yang
berasal dari Indonesia bukan hasil karya Indonesia. boyband
ini seperti hobi atau kegemaran seseorang yang bisa menghasilkan materi dengan
cara memperpanjangnya bersama kontrak bermusik, katakanlah kegemaran yang
membuka bisnis besar.
Boyband itu sendiri tidak melulu merajai dunia
permusikan di Indonesia, karena boyband
tidak termasuk hal yang akan dibudayakan dan dilestarikan di Indonesia. Mereka
meniru budaya asing. Dengan kualitas boyband
dan girlsband yang belum stabil dan
belum bisa menjanjikan ketenarannya dalam belantika musik Indonesia. Tidak
mungkin terus menerus mengadakan konser secara lip-sync.
Dalam kasus ini
jelas bahwa salah satu kebiasaan Indonesia adalah meniru dari apa yang sedang
ramai dipasaran. Setelah satu boyband
muncul, bermunculanlah grup boyband
yang lain, bahkan karena dipastikan mendapatkan ketenaran dimasa ini. Boyband yang belum berstandard sebagai boybandpun diluncurkan, suara vocal yang
pas-pasan dan gerakan dance yang tidak sesuai dengan music tidak menjadi
halangan untuk tetap diorbitkan mereka bermodal kepercayadirian dan keberanian.
Solusi yang memanjakan dan menguntungkan adalah lip-sync, inilah yang membuat beberapa dari calon boyband percaya diri akan sukses dan laris dipasaran.
Bukan tanpa pro dan kontra, boyband
ini menuai banyak pendapat, ada beberapa yang pro dengan mereka, mereka adalah
warna baru bagi musik tanah air. Mereka menyelamatkan dunia permusikan
Indonesia yang sebelumnya ramai dengan grup band yang melulu menyuguhkan menu
yang sama, bahkan beberapa pengamat musik mengatakan musik yang sedang
dimainkan oleh band-band itu sejatinya adalah sama.
Budaya asing
yang masuk ke Negara Indonesia ini membawa Indonesia kemasa lalu. Pada abad
ke-19 di Indonesia ramai dengan boyband, tentunya
dengan gaya mereka sendiri tidak menjiplak dari Negara lain ataupun meniru
karya orang lain. Dengan modal yang bisa disandingkan dengan musisi-musisi
papan atas dan kualitas yang memiliki mutu tinggi. Gaya yang menunjukkan
identitasnya sebagai warga Negara Indonesia, melestarikan apa yang telah
menjadi prosesi turun temurun di Indonesia.
“Ide-ide dan
gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa
kepada masyarakat itu. Gagasan-gagasan itu tidak berada lepas satu dari yang
lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi suatu sistem”.
(Koentjaraningrat,
xx:187)
Selain itu
Budaya asing juga membawa Indonesia kemasa yang lebih modern, masa yang
mengikuti kemajuan di Negara-negara lain. Mengikuti kemajuan dunia yang selalu
memiliki hal baru dan Ide kreatif yang membuahkan bisnis maupun budaya baru.
Tentunya boyband dan girlsband ini bisa diterima sepenuhnya
jika secara total memiliki bakat dan tidak meninggalkan budaya yang lebih dulu
menyinggahi tanah air. Berawal dari pengertian budaya itu sendiri yaitu “Sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” menurut Koentjaraningrat
xx:180.

0 komentar:
Posting Komentar